Kota Langsa (pascasarjana) - Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Guru Pendidikan Agama Islam, acara berlangsung di Aula Pascasarjana Program Magister Lt.2 Kampus setempat, Jumat, (21/11/2025)
FGD ini menghadirkan dua pemateri yakni Dr. Mahlinurrahman, S.Pd.I., M.Pd., (Dosen Universitas Samudra, Langsa) dan Dr. Ahmad Fuadi, M.Pd.I., (Dosen Institut Jam'iyah Mahmudiyah (IJM) Langkat). Dengan tema “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Kearifan Alam Melayu” menghadirkan guru Pendidikan Agama Islam dan praktisi pendidikan dari Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Aceh Timur.
Direktur Pascasarjana Program Magister IAIN Langsa Dr. Zulfikar, M.A yang diwakili oleh Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Langsa Dr. Muhammad Suhaili Sufyan, M.A mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini dan menegaskan bahwa FGD seperti ini akan menjadi agenda rutin sebagai bentuk kolaborasi berkelanjutan. “Kampus dan guru harus berjalan bersama. Suara dari lapangan sangat penting untuk memastikan Pendidikan Agama Islam tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujar beliau.
Kegiatan FGD ini bertujuan meningkatkan kualitas guru Pendidikan Agama Islam Aceh Timur Raya (Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Timur), meningkatkan kemampuan guru PAI dalam mengintegrasikan kearifan lokal (Alam Melayu) dalam pengajaran, menggali nilai-nilai budaya lokal (Alam Melayu) dalam rangka pembangunan karakter siswa melalui pengajaran PAI, dan mewujudkan visi keilmuan Prodi PAI Pascasarjana IAIN Langsa, yakni “Menjadi program studi unggul dalam pengembangan ilmu Pendidikan Agama Islam Alam Melayu secara integratif dan interdisipliner yang Rahmatan lil Alamin pada tahun 2029.”
FGD yang dilaksanakan ini menghadirkan tiga puluh peserta, dengan masing-masing lima peserta dari Punggawa Madrasah Nasional Indonesia, Aceh Tamiang, Kelompok Kerja Guru PAI Aceh Tamiang, Forum Guru PAI SD Aceh Timur, Kelompok Kerja Guru MI Aceh Timur, Asosiasi Guru PAI Indonesia Kota Langsa, dan Dinas Pendidikan Kota Langsa.
Dalam presentasinya untuk memantik diskusi, Dr. Mahlinurrahman, S.Pd.I., M.Pd., memaparkan pentingnya menghidupkan kembali tradisi yang pernah berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh-Melayu seperti kesantunan, toleransi, dan komitmen tinggi dalam melestarikan lingkungan.
Beliau mencontohkan bagaimana filosofi pembuatan bubu untuk menangkap ikan dibuat agak longgar dengan tujuan agar ikan yang masih kecil dapat lepas sehingga yang dikonsumsi hanya ikan yang telah dewasa. Semangat ekologi lainnya yang perlu dihidupkan adalah seperti menancapkan parang pada batang pohon yang hendak ditebang. Bila selama tiga hari parang tersebut masih tertancap pada batang, berarti pohon tersebut sudah cukup usia untuk ditebang dan dipergunakan untuk kemaslahatan. Namun bila parangnya terjatuh, berarti usia pohon masih belum memungkinkan untuk ditebang. Dikemukakan bahwa belakangan tradisi itu sudah banyak ditinggalkan. Efeknya adalah terjadinya krisis pada banyak dimensi kehidupan.
Sementara itu, Dr. Ahmad Fuadi, M.Pd.I., menekankan pentingnya semangat gotong royong dan menghidupkan kembali tradisi yang pernah berkembang dalam masyarakat Melayu seperti semaraknya pengajian. Beliau mengatakan pentingnya peran orang tua dalam menjaga anak dan remaja agar memiliki pola hidup disiplin, tidak keluyuran di malam hari, dan pembatasan penggunaan ponsel, karena media sosial dan permainan daring sudah sangat merugikan kehidupan anak dan remaja.
Kedua pemateri juga menyampaikan kiat, teknik, dan pendekatan integrasi kearifan Alam Melayu dalam pembelajaran PAI di sekolah dan madrasah. Antusiasme peserta dalam FGD cukup tinggi, beberapa peserta memberikan tanggapan dan pandangannya terkait materi. Di antara respons peserta adalah mengenai pentingnya kesadaran ekologi berbasis filosofi Alam Melayu, memaparkan berbagai aturan adat Melayu untuk menjaga harmonisme alam, Tuhan, dan sosial masyarakat, serta pentingnya partisipasi orang tua dalam menjaga moralitas anak dan remaja.